PULANG PISAU, IMMKALTENG.ID – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pulang Pisau, Tandean Indra Bela, S.T., mengajak mahasiswa untuk membangun sikap kritis, terbuka, dan berani menyuarakan kepentingan masyarakat. Namun, keberanian tersebut perlu diiringi kemampuan berpikir rasional, menjaga persatuan, serta memberikan kontribusi nyata bagi daerah. Pesan itu disampaikan Tandean saat menjadi pemateri Studium General Darul Arqam Dasar (DAD) Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Pulang Pisau, Sabtu (19/9/2026).
Mengangkat tema wawasan kebangsaan, Tandean mengajak peserta melihat keberagaman sebagai bagian penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Menurutnya, Indonesia dibangun di atas keberagaman suku, agama, keyakinan, dan latar belakang masyarakat yang disatukan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Indonesia dibangun di atas keberagaman. Bagaimana kita bisa hidup nyaman di atas keberagaman itu dan tetap disatukan dalam NKRI,” ujarnya.
Ia juga mengajak mahasiswa menghargai pemikiran para founding fathers yang telah merumuskan dasar dan arah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam kesempatan tersebut, Tandean menyampaikan apresiasi terhadap Muhammadiyah yang dinilainya memiliki tradisi intelektual serta kontribusi dalam kehidupan kebangsaan. Ia juga menyebut sosok Ahmad Syafii Maarif sebagai salah satu tokoh Muhammadiyah yang dikaguminya, terutama dalam hal keterbukaan berpikir dan wawasan kebangsaan.
Menurut Tandean, mahasiswa Muhammadiyah perlu memiliki cara berpikir yang terbuka, tidak eksklusif, dan mengedepankan nalar. Sikap tersebut penting agar mahasiswa tidak mudah menerima atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
“Dengan kita berpikir terbuka, tidak eksklusif, berpikir secara nalar, kita tidak mudah menyebarkan berita-berita hoaks,” katanya.
Tandean juga menekankan pentingnya keberanian mahasiswa dalam menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan di tengah masyarakat. Menurutnya, kritik merupakan bagian dari proses menjaga keseimbangan dalam kehidupan demokrasi. Ia mengibaratkan kritik sebagai rem yang berfungsi mengingatkan agar kekuasaan tetap berada dalam kendali.
“Mengkritik itu perlu. Ibaratnya kritik itu rem. Tidak perlu menjatuhkan,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk tetap kritis dan berani bersuara, tetapi tetap menghargai peran pemerintah serta tidak menjadikan kritik sebagai upaya untuk menjatuhkan pihak lain.
Di sisi lain, Tandean mengingatkan agar mahasiswa tidak berhenti pada kritik. Menurutnya, kepedulian terhadap persoalan daerah perlu diwujudkan melalui keterlibatan dan kontribusi nyata.
“Jangan hanya bisa menyalahkan. Kalau bisa, ikut kontribusi nyata,” tegasnya.
Dalam materi yang disampaikan, Tandean juga mengajak mahasiswa untuk tidak menunggu menjadi “orang besar” untuk memberikan kontribusi.
Ia mendorong mahasiswa meningkatkan kapasitas dan pengetahuan, peduli terhadap persoalan masyarakat, aktif berorganisasi secara sehat, serta menjaga persatuan dan nama baik organisasi.
“Tidak perlu menunggu menjadi ‘orang besar’ untuk berkontribusi,” demikian pesan yang disampaikan dalam materi tersebut.
Menurutnya, kontribusi untuk Pulang Pisau merupakan bagian dari kontribusi untuk Indonesia. Karena itu, mahasiswa perlu menjadikan organisasi dan proses pendidikan sebagai ruang untuk meningkatkan kapasitas diri sekaligus mempersiapkan diri mengambil peran di tengah masyarakat.
Studium General tersebut menjadi bagian dari rangkaian DAD IMM Pulang Pisau yang berlangsung pada 18-20 September 2026. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi kader IMM untuk memperkuat wawasan kebangsaan, kapasitas intelektual, kepedulian sosial, serta kesiapan mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. (B)







Tinggalkan komentar