Lewat Film Dokumenter, Kader IMM Kota Palangka Raya Abadikan Akulturasi Budaya dalam Sendratari Hikayat Kutaringin

Oleh

Redaksi IMM Kalteng

Redaksi IMM Kalteng

Terbit

PALANGKA RAYA, IMMKALTENG.ID – Muhammad Rizki Al Mubarak, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR) sekaligus Ketua Bidang Hikmah, Politik, dan, Kebijakan Publik Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Palangka Raya, menyelesaikan tugas akhir berbentuk karya audio visual berupa film dokumenter berjudul “Hikayat yang Dihidupkan”. Karya ini mengangkat representasi akulturasi budaya Dayak dan Melayu dalam Sendratari Hikayat Kutaringin.

Penyelesaian karya ini menjadi catatan tersendiri bagi dunia akademik Ilmu Komunikasi di Kalimantan, khususnya dalam penggunaan film dokumenter sebagai bentuk tugas akhir mahasiswa. Karya tersebut memperlihatkan alternatif penyelesaian tugas akhir yang menggabungkan penelitian akademik dengan praktik produksi film.

Dalam proses pengerjaannya, Rizki berperan sebagai penulis naskah sekaligus sutradara. Ia berkolaborasi dengan Akhmad Ikramul Mahbub yang bertindak sebagai produser dalam produksi film tersebut.

Film “Hikayat yang Dihidupkan” berangkat dari Sendratari Hikayat Kutaringin, sebuah pertunjukan yang mempertemukan berbagai unsur budaya melalui musik, alat musik, busana, gerak tari, dan alur cerita. Perpaduan unsur Banjar dan Dayak menjadi salah satu aspek yang ditelusuri dan direpresentasikan melalui film.

Dalam proses pengumpulan data, Rizki melakukan observasi, dokumentasi, studi pustaka, serta wawancara dengan Rizaldi Kurniawan selaku pimpinan produksi dan Husni Riadi selaku pimpinan komposer Sendratari Hikayat Kutaringin. Dokumentasi pertunjukan kemudian dipadukan dengan wawancara untuk memberikan gambaran mengenai proses dan unsur budaya yang hadir dalam sendratari tersebut.

Namun, perjalanan menyelesaikan karya ini tidak berlangsung singkat. Rizki mengakui bahwa salah satu tantangan terbesar adalah waktu. Ia harus mengorbankan beberapa semester dalam perjalanan akademiknya agar karya tersebut dapat diselesaikan.

“Bagi saya, karya ini bukan sekadar menyelesaikan tugas akhir. Ada proses panjang, waktu, dan banyak hal yang harus dikorbankan agar film ini benar-benar bisa selesai. Saya berharap apa yang saya kerjakan bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk perkembangan film di Kalimantan,” ungkap Rizki.

Saat ini, film dokumenter “Hikayat yang Dihidupkan” telah dapat disaksikan melalui kanal YouTube Afirmasi Rasa. Kehadiran film ini di ruang digital diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap dokumentasi Sendratari Hikayat Kutaringin sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada khalayak yang lebih luas.

Lebih dari sekadar pencapaian personal, Rizki berharap karya ini dapat menjadi pemantik nyata bagi perkembangan skena film di Kalimantan, khususnya Palangka Raya. Ia berharap semakin banyak mahasiswa, komunitas, dan pelaku kreatif yang berani menghasilkan karya film serta menjadikan film sebagai medium untuk bercerita, mendokumentasikan budaya, dan mengangkat persoalan di daerah.

Baginya, perkembangan perfilman daerah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya karya yang dihasilkan, tetapi juga oleh keberanian untuk memulai, ruang kolaborasi, serta dukungan terhadap tumbuhnya ekosistem kreatif lokal.

Film dokumenter “Hikayat yang Dihidupkan” dapat disaksikan melalui kanal YouTube Afirmasi Rasa. (FDS)

Redaksi IMM Kalteng

Redaksi IMM Kalteng

Artikel Penulis

Pos Terkait

Tinggalkan komentar