PALANGKA RAYA, IMMKALTENG.ID – Korps Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah Daerah (KM3Da) Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kalimantan Tengah (DPD IMM Kalteng) dan KM3Da DPD IMM Jawa Tengah (Jateng) menyelenggarakan Mimbar Dakwah Intelektual, Selasa (25/8/2026). Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom tersebut mengangkat tema “Konsep Negara Ideal Perspektif Islam dan Refleksi Kemerdekaan Indonesia.”
Kegiatan ini menjadi ruang intelektual bagi kader IMM se-Indonesia untuk memperluas wawasan keislaman sekaligus memperkuat perspektif kebangsaan. Mimbar Dakwah Intelektual menghadirkan sejumlah kader dan pimpinan IMM sebagai pemantik diskusi, di antaranya Ahmad Satrio Imaduddin, Ketua KM3Da DPD IMM Jateng, serta Fakhruddin Lubis Ketua KM3 Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM, sebagai pemateri.
Diskusi juga menghadirkan Muhammad Hasnan Nahar, Ketua Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman DPP IMM, sebagai Keynote Speaker. Sementara itu, Aris Pratama Gunawan, Ketua Umum DPD IMM Kalteng, hadir memberikan sambutan. Adapun jalannya diskusi dipandu Rido, Bendahara KM3Da DPD IMM Kalteng, selaku moderator.
Ketua Umum DPD IMM Kalteng, Aris Pratama Gunawan, dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun tradisi intelektual di kalangan kader IMM. Menurutnya, kader IMM harus mampu menjadikan momentum kemerdekaan sebagai ruang refleksi untuk memperkuat kontribusi mahasiswa dalam kehidupan umat dan bangsa.
“Kemerdekaan harus kita maknai sebagai ruang untuk menghadirkan kebermanfaatan. Kader IMM tidak cukup hanya memahami persoalan bangsa, tetapi harus memiliki keberanian intelektual untuk membaca, mengkritisi, dan menawarkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.”
Dalam forum tersebut, Ahmad Satrio Imaduddin menyampaikan pembahasan mengenai negara ideal dalam perspektif Islam diarahkan tidak hanya pada aspek konseptual, tetapi juga pada bagaimana kader IMM mampu membaca realitas kebangsaan secara kritis dan konstruktif.
“Refleksi kemerdekaan Indonesia menjadi momentum untuk mempertanyakan kembali sejauh mana nilai-nilai kemerdekaan dapat diwujudkan dalam kehidupan masyarakat, terutama melalui keadilan, kesejahteraan, pendidikan, dan penghormatan terhadap martabat manusia,” ungkapnya.
Ia menambahkan, perspektif tersebut memiliki relevansi dengan gagasan Muhammadiyah mengenai Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi wa as-Syahadah, yakni Indonesia sebagai negara yang lahir dari konsensus kebangsaan sekaligus ruang pembuktian kontribusi warga negara dalam mewujudkan kehidupan yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat. Konsep tersebut ditetapkan dalam Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar pada 2015.
Dalam konteks tersebut, kader IMM dituntut tidak berhenti pada pemahaman keagamaan yang bersifat normatif, tetapi mampu menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam praksis kehidupan kebangsaan. Kemerdekaan tidak semata dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai ikhtiar membebaskan masyarakat dari ketidakadilan, kemiskinan, keterbelakangan, serta berbagai bentuk penindasan.
Reporter: Adhitya Fajari







Tinggalkan komentar