Revitalisasi Perkaderan IMM dalam Mencetak Kader Autentik Berkemajuan di Kalimantan Tengah

Oleh

Redaksi IMM Kalteng

Redaksi IMM Kalteng

Terbit

Oleh: Akhmal Raihan*

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah sebuah organisasi mahasiswa, dan sejak berdirinya wadah pembinaan untuk para mahasiswa yang berlandaskan Trilogi IMM, yaitu intelektualitas, humanitas, religiusitas. Ketiga nilai ini bukan hanya menciptakan kader IMM yang pintar secara akademik, tetapi juga menciptakan kepedulian sosial dan juga mempererat ukhuwah Islamiyah. Namun, dalam perkembangan IMM di Kalimantan Tengah utamanya banyak mengalami sebuah problematika yang kompleks.

IMM di Kalimantan Tengah menghadapi tantangannya sendiri berbeda dengan daerah lain, Kalimantan Tengah sendiri memiliki beragam suku dayak dan serta keragaman etnis. Beberapa masalah klasik muncul salah satunya adalah kurangnya minat mahasiswa dalam mengikuti Darul Arqam Dasar atau disebut dengan DAD. Lemahnya kesinambungan hingga kurangnya motivasi dalam perkaderan itu sendiri, dan itu mungkin jadi salah satu alasan mahasiswa sekarang kurang memiliki minat dalam mengikuti perkaderan DAD atau lainnya yang dilaksanakan oleh IMM.

Kondisi ini juga diperparah dengan derasnya kemajuan teknologi digital dan globalisasi. Generasi muda sekarang lebih tertarik dengan video pendek dibandingkan dengan sebuah forum diskusi, dan juga lebih dekat dengan konten-konten singkat daripada bacaan mandalam. Jika IMM tidak melakukan inovasi maka perkaderan hanya akan menjadi sebuah prasarana formal tanpa adanya dampak nyata. Padahal IMM diharapkan bisa melahirkan kader-kader yang siap atau bisa menjawab isu-isu masalah di kalangan masyarakat dengan perspektif Islam bekemajuan.

IMM sendiri itu memiliki tanggung jawab historis dan moral untuk melahirkan kader-kader yang autentik berkemajuan dalam artian melahirkan kader IMM yang sebenar-benarnya seperti yang ada dalam Trilogi IMM itu sendiri, dan bukan hanya melahirkan kader yang bukan hanya memahami ideologi Muhammadiyah, tetapi juga mampu kader-kader IMM Kalimantan Tengah berdaptasi dengan perubahan dari segi sosial, politik, budaya dan teknologi. Dengan ini revitalisasi perkaderan IMM Kalimantan Tengah wajib dilakukan atau menjadi keharusan.

Revitalisasi perkaderan IMM Kalimantan Tengah dapat atau sangat bisa diwujudkan dengan melalui inovasi digital, integrasi isu-isu lokal atau isu-isu terbaru yang bisa dimasukkan dalam materi kaderisasi, dan penguatan mentoring berbasis alumni dari IMM itu sendiri.

Perkaderan IMM secara konseptual itu sudah direncanakan secara paten secara matang, yakni untuk mencetak kader-kader yang berwawasan dan berideologi Muhammadiyah dan juga memiliki tradisi intelektual Islam. Namun implementasinya atau pelaksanaannya sering tidak berkesinambungan. Banyak kader IMM Kalimantan Tengah terkadang mengikuti DAD hanya sebagai formalitas saja tanpa adanya keberlanjutan ke Darul Arqam Madya (DAM) atau pengkaderan lainnya, sehingga akibatnya menjadi perkaderan tidak merata karena kurangnya dorongan untuk membangkitkan semangat kader untuk terus ber IMM dan akhirnya banyak kader yang hanya berhenti hingga perkaderan di DAD dan tidak melanjutkan ke perkaderan yang lebih tinggi lagi tingkatannya.

Bahkan banyak kader IMM Kalimantan Tengah itu kurang tertarik dengan yang namanya perkaderan nonformal seperti mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM atau dari Pimpinan Cabang (PC) IMM bahkan mungkin dari Pimpinan Komisariat (PK) IMM. Kader-kader IMM sekarang sudah terlalu asik dengan dunia maya sehingga menurunkan intelektualitas dan pemahamannya tentang Muhammadiyah dan IMM itu sendiri.

Menurut Agustya, strategi perkaderan IMM harus berkesinambungan dan selalu melakukan pembaharuan metode yang disampaikan yang dibawakan agar selalu relevan dengan zaman sekarang, kalau kita tidak bisa melakukan pembaharuan ataupun menekankan kesinambungan akan sedikit mengalami maslaah yang selalu sama yatu kurangnya minat kader untuk masuk ke IMM. Selain itu, menurut dari jurnal Fikrotuna bahwa di era digital ini yang serba digital kita juga harus mengembangkan modul basis teknologi, karena agar bisa mencakup luas dan menjangkau lebih banyak kader dan juga paling utama adalah kader-kader yang berada di daerah terpencil. Sementara itu di dalam jurnal Pencerah menekankan kepada konstektualisasi materi perkaderan dengan persoalan lokal ataupun isu-isu lokal agar kaderisasi tidak terlena oleh realitas sosial. Jadi kader juga bisa mengetahui realitas sosial yang sesungguhnya melalui kaderisasi di IMM itu sendiri.

Dengan demikian, IMM Kalimantan Tengah sangat perlu menjawab tantangan ini dengan pembaharuan strategi. Bukan hanya sekedar memperbanyak kegiatan seremonial, melainkan menghadirkan perkaderan IMM yang progresif, relevan dan juga solutif.

Digitalisasi kaderisasi di era modern seperti sekarang ini, bukanlah sebuah pilihan tetapi itu adalah kebutuhan. IMM Kalimantan Tengah sepertinya perlu menghadirkan sebuah modul kaderisasi berbentuk digital yang bisa diakses lewat aplikasi atau website resmi IMM, jadi modul itu berbentuk seperti E-Book atau bisa juga E-Learning, bisa berupa video materi, podcast hingga sebuah forum diskusi secara online itu juga bisa menjadi alternatif selain melakukan pertemuan secara langsung. Inovasi ini akan mempermudah kader-kader IMM yang berada di daerah yang jauh dari pusat kota untuk tetap bisa mendapatkan binaan.

Tetapi semua ini pasti memiliki tantangannya tersendiri yaitu adalah keterbatasan jaringan apabila kader-kader ini tinggal di daerah 3T (Terluar,Terpencil,Tertingal). Namun hal ini bisa diatasi dengan caara menyediakan modul offline (PDF Interactive) yang bisa mereka unduh sekali lalu dipelajari tanpa perlu menggunakan koneksi internet. Digitalisasi kaderisasi ini pun harus diimbangi atau diiringi dengan literasi digital agar kader-kader IMM Kalimantan Tengah bukan hanya sebagai penikmat teknologi tetapi juga produsen konten konten dakwah berkemajuan.

Integrasi isu lokal dalam materi kaderisasi, jadi kader IMM itu harus selalu peka terhadap isu khas daerahnya masing-masing. Seperti contohnya di Kalimantan Tengah sendiri itu hampir setiap tahun mengalami kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), itu adalah contoh nyata persoalan lingkungan yang membutuhkan peran mahasiswa peran para kader IMM untuk peka terhadap persoalan itu. Selain itu, keragaman suku dan budaya menjadi bagian daripada materi kaderisasi agar para kader IMM tidak hanya fasih berbicara tentang teologi saja tetapi juga kader IMM mampu mengelola pluralitas sosial-budaya.

Dengan memasukkan isu-isu lokal kedalam kurikulum perkaderan, IMM Kalimantan Tengah sangat amat bisa mencetak kader yang solutif. Misalnya diadakan sebuah forum diskusi membahas “IMM dan Multikulturalisme Kalimantan Tengah” atau juga bisa “Peran kader IMM dalam Migitasi Karhutla” itu juga membantu para kader agar lebih peka dan merasa relevan dengan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan temuan dari salah satu jurnal yaitu Jurnal Pencerah bahwa perkaderan konstekstual itu lebih efektif membentuk perilaku keagamaan mahasiswa.

Penguatan mentoring berbasis alumni, di setiap tingkatan pasti program perkaderan, itu harus membentuk sebuah pola mentoring berkelanjutan dengan melibatkan alumni sebagai pembimbing kader-kader baru ini. Seperti contohnya di Universitas Muhammadiyah Surakarta di dalam studi tentang “Baret Merah” IMM Sukoharjo membuktikan bahwasannya kaderisasi berbasis komunitas itu lebih mampu memperkuat loyalitas dan daya juang dari kader-kader itu sendiri. Dengan mentoring ini kader baru tidak akan merasa kehilangan arah setelah mereka di DAD. Tetapi mereka tetap bisa berdiskusi, mendapat bimbingan, serta di arahkan untuk mengembangkan potensi sesuai minat dan bidang mereka masing masing baik secara akademik ataupun nonakademik, sosial, maupun dakwah. Model ini juga sejalan dengan gagasan dari Paulo Freire tentang pendidikan pembebasan, yaitu pendidikan yang relevan dengan realitas peserta didik dan menekankan dialog antar subjek.

Maka dari itu, kesimpulannya adalah revitalisasi perkaderan IMM Kalimantan Tengah itu akan dapat tercapai apabila dilakukan melalui digitalisasi, integrasi isu lokal dan juga penguatan mentoring melalui alumni dari IMM. Dengan strategi tersebut, IMM tidak hanya mempertahankan eksistensinya saja tetapi juga membangun kader yang autentik berkemajuan yang sesuai dengan tujuan DPD IMM Kalimantan Tengah dan juga yang siap berkontribusi dalam pembangunan Kalimantan Tengah.

*PK IMM Al-Farabi FAI UMPR/ Mahasiswa PAI UMPR

Redaksi IMM Kalteng

Redaksi IMM Kalteng

Artikel Penulis

Pos Terkait

Tinggalkan komentar